Dorothy Irene Marx
Dorothy Irene Marx
Ibu Pdt. Dorothy I Marx adalah seorang Hamba Tuhan keturunan Yahudi yang berasal dari Jerman. Beliau pertama kali melayani di Indonesia pada tanggal 7 Januari 1957 sebagai utusan Injil di bawah naungan OMF. Sejak itu beliau dengan setia melayani di Indonesia. Pada tahun 1965 ditahbis menjadi Pdt. GKI, disamping itu beliau banyak bergerak di kalangan mahasiswa dan mengajar di perguruan tinggi antara lain: di UK Maranatha, ITB, IKIP Bandung dan juga menulis buku-buku bacaan rohani antara lain: Di dalam bidang Etika dengan judul "ITU KAN BOLEH?".
Pada tahun 1983 beliau mengambil study lanjutan Theologia di Universitas Tubingen Jerman Barat. Satu hal yang patut di catat sebagai pengungkapan bebannya bagi orang Indonesia yaitu pada tahun 1983 beliau sudah secara resmi menjadi Warga Negara Indonesia. Kali ini redaksi Jurnal Pelita Zaman memperoleh kesempatan untuk mewawancarai beliau, yang dilakukan melalui kontak pribadi pada bulan Agustus 1986 di Jakarta oleh Ev. Lily L. Efferin. Kemudian dilanjutkan dengan surat-menyurat, dan bentuk akhir dari pada wawancara ini direkam oleh Ibu Pdt. Dorothy I. Marx sendiri dan dikirimkan langsung dari Jerman.PZ: Belakangan ini ada beberapa buku yang membahas mengenai 'Etika Injili' (Evangelical Ethic). Sebetulnya apa yang dimaksud dengan Etika Injili itu sendiri, maksudnya apakah ada arti atau perbedaan khusus dengan Etika Kristen yang sudah lazim?DM: Tentang pertanyaan mengenai Etika Injili (Evangelical Ethic), terlebih dahulu kita perlu menjelaskan istilah Etika dan juga istilah Injili. Etika adalah suatu ilmu pengetahuan yang membahas tentang moral, nilai-nilai dalam masyarakat, kebiasaan-kebiasaan, tingkah laku, dan motivasi-motivasi yang menggerakkan tingkah laku kita tersebut. Mengenai istilah Injili sebenarnya saya lebih suka kalau kita mendasarkan segala pemikiran etis kita pada Etika Kristen dan bukan pada Etika Injili. Oleh karena seakan-akan Etika Injili itu dimaksud untuk mempunyai suatu nilai yang lebih tinggi dari pada Etika Kristen, dan dalam hal ini saya tidak setuju.
Etika Kristen adalah etika yang berasal dari Injil Kristus dan kalau dari Injil Kristus, maka latar belakangnya adalah Perjanjian Lama dan Firman Tuhan yang Tuhan Yesus ketahui, pelajari, praktekkan dan ajarkan. Dapat kita simpulkan bahwa Etika Kristen adalah etika yang berdasarkan Alkitab, etika yang berdasarkan seluruh Firman Allah yang terkandung di dalam Alkitab. Maka kalau kita sekali lagi membedakan antara Etika Kristen dan Etika Injili dan menginginkan untuk lebih menitikberatkan pada Etika Injili, maka saya menarik kesimpulan seakan-akan etika yang mau diajarkan hanya berdasarkan perjanjian Baru dengan tidak mempertimbangkan seluruh latar belakang Perjanjian Lama dan hal itu saya anggap salah. Saya lebih suka kalau kita memegang istilah Etika Kristen. Karena kita mengetahui adanya banyak cabang etika. Misalnya Etika Sosial, Etika Medis, Etika Politis, Etika Pribadi, Etika dalam Masyarakat, Etika Pancasila dan lain-lain. Maka Etika Kristen, atau sebagaimana saudara ingin mengatakannya Etika Injili dan sekali lagi saya tekankan, saya ingin memakai istilah Etika Kristen, seluruh cabang-cabang etik ini di mana kita membutuhkan norma dan nilai tingkah laku dan cara-cara berpikir dan bertindak yang sesuai dengan kehendak Allah. Itu berarti bahwa seluruh pemikiran kita berdasarkan den bertitik tolak pada Firman Allah. Izinkanlah saya menambahkan sesuatu tentang istilah Injili. Karena belakangan ini saya melihat perbedaan yang dimaksudkan, misalnya antara gereja Kristen atau gereja Injili, dan di sini ada 3 (tiga) hal yang saya ingin tekankan. Kalau kita menginginkan perbedaan Injili untuk menitikberatkan pada pusat Injil (mengabarkan tentang Tuhan Yesus Kristus yang datang ke dunia untuk menghapuskan dosa, untuk mati bagi umat manusia dan bangkit pula, agar kita dapat diampuni dan dapat menerima anugerah Allah, dapat lahir baru, menjadi manusia baru) tentu saya akui semuanya itu dan saya setujui dengan segenap hati.
Terkadang istilah Injili itu juga di pakai karena adanya kekuatiran, yaitu dalam banyak gereja titik beratnya bukan lagi pada hal-hal yang tadi saya sebutkan. Tetapi titik beratnya sudah digeser pada hal-hal lain, sehingga yang diutamakan adalah masalah masalah politik, masalah ekonomi, masalah sosial dan sebagainya. Dan Injil sendiri tidak lagi dianggap penting dan pemberitaan Injil di mana orang disuruh untuk bertobat tidak lagi dipentingkan. Hal ini jelas tidak benar. Tetapi di pihak lain adanya kemungkinan bahwa tekanan injili yang kurang tepat dalam gereja-gereja. Misalnya kita terlalu menjadi individualistis dan tidak lagi melihat posisi kita di dalam tubuh Kristus, sehingga kita mengasingkan diri dari gereja atau masyarakat dan menjadi kelompok eksklusif. Dalam hal ini jelas saya tidak setuju. Karena Tuhan Yesus yang menempatkan kita di dunia, di masyarakat, di dalam bangsa masing-masing, juga memberikan kita tanggung jawab sepenuhnya terhadap negara dimana kita boleh tinggal di dalamnya dan terhadap masyarakat sekeliling, terhadap masyarakat umum, terhadap segala masalah-masalah yang berkenaan dengan masalah masyarakat, politik dan sebagainya. Itu tidak berarti bahwa kita melalaikan Injil, tetapi hal itu berarti bahwa kita menjadi manusia yang sungguh-sungguh bertanggung jawab dalam keseluruhannya. Kita sebagai musafir di dunia. Tetapi oleh Tuhan kita di tempatkan di sini untuk menjadi wakil-wakilnya dalam segala aspek dan situasi yang kita temui dalam masyarakat dan dalam dunia pada zaman di mana kita hidup sekarang ini.
Comments
Post a Comment